JEJAK KATA:
Home » , » SEBUAH CATATAN PADA HUT TEATER BEL

SEBUAH CATATAN PADA HUT TEATER BEL

Written By teaterbel bandung on Sabtu, 27 Desember 2014 | 01.28

Puisi-Puisi Semasa di Bel

Oleh: Rosyid E. Abby

AKU mulai bergabung dengan Teater Bel (dulu Teater Ge-Er) di Gelanggang Generasi Muda (GGM) sejak tahun 1982.  Ketika itu aku kelas 3 SMP, dan sebentar lagi masuk SMA. Saat itu aku banyak menciptakan puisi (mungkin karena termotivasi dengan dikukuhkannya” aku sebagai Juara III “Lomba Cipta Puisi Hari Pahlawan” tingkat SMP Se-Kota Bandung”). Puisi-puisi yang kuciptakan, boleh sombong, tidak seperti anak-anak seusiaku saat itu yang kental dengan “cita rasa kasmaran”. Ada satu-dua puisiku bercitarasa demikian, namun selebihnya di luar dari persoalan asmara: tentang hidup, perjalanan hidup, hakikat hidup, nasib, ketimpangan sosial, perenungan diri, dll, yang lebih tertuju pada persoalan-persoalan manusia secara hakiki.
Puisi-puisi di bawah ini adalah beberapa di antaranya yang diciptakan pada masa itu. Ada yang diciptakan di kota kelahiranku sendiri, Bandung, ada pula yang diciptakan di kota kelahiran bapakku, tempat masa kanak-kanakku di Bayalangu, Cirebon. Bahkan ada pula di antaranya yang diciptakan di kota-kota lainnya, saat aku “betandang” ke luar kota (dulu aku sering “berkelana” keluar kota bersama satu-dua teman sebayaku, bahkan sempat beberapa hari menyusuri gang-gang di Jakarta dengan berjalan kaki sekadar menghabiskan malam yang pengap bersama beberapa teman SMA-ku).
Puisi-puisi yang diciptakan di Bandung, bahkan ada yang diciptakan di Gelanggang Generasi Muda (GGM, kini Gelanggang Pemuda), di saat-saat menunggu latihan, dan menunggu teman-teman karena jadwal latihan masih terlalu lama.
Hasil puisi yang kuciptakan itu, sering aku periksakan pada Yesmil Anwar (Kak Yessi, demikian aku dan beberapa teman Bel lain memanggilnya). Dialah yang selalu memberikan masukan dan kritikannya terhadap puisi-puisiku itu. Ada catatannya yang berupa tulisan tangannya, kopiannya aku simpan. Sayang, aslinya tak sempat kuselamatkan, entah di mana, raib bersama beberapa buku tulis yang memuat coretan-coretan puisiku di masa lalu. Tulisan tangan Kak Yessi itu (yang berupa kopiannya), hingga saat ini masih kusimpan dengan rapi di sela-sela tumpukan naskah yang dapat kuselamatkan.
Tulisan tangan Kak Yessi itu, bukan main pengaruhnya bagi perkembangan penulisanku. Lewat tulisan tangannyalah aku setiap saat termotivasi untuk terus berkarya, berkarya, dan berkarya. Karena, setiap aku berkarya (dalam hal ini mencipta puisi/puisi), aku selalu teringat pada tulisannya, pada bentuk huruf-latinnya yang mudah terbaca, pada isinya yang menggugah keberanian dalam berkarya. Bahkan tanpa membacanya pun, aku ingat dengan jelas deretan kata-katanya, dengan jelas pula ingat pada barisan kalimatnya:

“Rosyid,
puisi-puisimu, bagai anak seekor burung yang sehat yang lahir dari rahim ibu yang sehat pula. Rawat dan dewasakanlah dengan tanggung-jawab dan segala kepekaan.
Sukses untukmu.”

(Tandatangan, 83)
Yessi Anwar

Kini, puisi-puisi yang kuciptakan semasa aku di Teater Ge-Er itu, ada beberapa yang termuat di buku kumpulan puisiku, “Pengembaraan Sunyi” (2008). Beberapa di antaranya ada yang dimuat di media cetak, ada pula yang tercecer tak sempat dikirimkan ke media mana pun. Dan beberapa di antaranya, aku muatkan untuk HUT BEL yang ke 41 ini.
Anggap saja ini puisi kenangan semasa aku aktif-aktifnya di Teater Ge-Er Teater Bel). Puisi-puisi yang termuat inilah yang turut memberi kegairahan hidup, sehingga aku masih bisa terus berkarya sampai saat ini. (Penulis: Wapemred. Tabloid GALURA, Penulis, Sutradara Teater, Ketua Regu Pengamat FFB).


Puisi Rosyid E. Abby pada masa tumbuh dan kembang di Bel.

PENGEMBARAAN SUNYI

dari sepi ke sepi
meniti belantara usia
tersesat di dinding waktu
tak kembali lagi

dan aku pun mengembara
sebagai Ahasveros
jauh, ke batas cakrawala
di mana camar tak dapat terbang lagi

bdg, nov. 1985


RUMENTANG SIANG

detik demi detik
tik-tik-tik
hanya sekadar tontonan
langkah tiada hentinya menghitung kursi demi kursi
di depan panggung membisu
mata tiada hentinya mengamati yang berlakon
di atas panggung menyimpan berlaksa cerita
dari detik ke detik
tik-tik-tik
lakon tiada hentinya dipanggungkan
kita tiada jemunya menyaksikan yang lagi berlakon
sambil asyik pula melakonkan
yang mesti dilakonkan
disaksikan
di atas panggung
senapas demi senapas
dari detik ke detik
tik-tik-tik
detik demi detik
tik-
      tik-
           tik!

1982-1995




PENJELAJAHAN

begitu lelap, begitulah hidup. Mengembara
dari satu kota ke kota lain. Menjelajahi
satu rimba ke rimba lain. Mengarungi
satu lautan ke lautan lain
- sementara kita makin sendiri
  terasing
  dari tanah kelahiran

bdg, nov. 1985



SEPERTI MULANYA

kau makin jauh
mendekati matahari dari bumi
berlari-lari seperti kijang kencana
sedang aku berputar antara sumbu-sumbu bumi
menerobos goa-goa pekat tanpa jeda

ada matahari di pundakmu
ada rembulan di pundakku
masing-masing jalan sendiri
masing-masing berputar
sendiri

kau telah tak sadar lagi
siapa aku
kumau kita hidup sendiri-sendiri
seperti mulanya
sepi
      dan
           sendiri

Bdg, April 1985 


 DI BAWAH MATAHARI

Di bawah matahari aku merangkak. Tanah mengepulkan debu
Jalanan beku diganggang matahari. Di bawah matahari
angin tak kunjung juga mengembara di padang-padang. Awan kian
merangkak pada kenisbian langit, sembunyi di balik matahari.

Di bawah matahari tak kutemui wajah kekasih. Bahkan
wajah ibunda
pun tak ada. Serasa asing. Serasa sendiri

Di bawah matahari menghamparlah segala tanya. Segala rasa!

Cirebon, Okt. 1985
 

SAJAK ORANG MARJINAL

ada saatnya gang di ujung sana tak pernah membuka gerbang
sekadar melepas lelah kita. Seharian kita ketuk pintu rumah-rumah
mati bagai tak berpenghuni. Tak ada harapan bertanya
tentang apa yang tak kita ketahui. Tak ada orang luangkan
waktu mengurusi tetek-bengek di luar dirinya

lalu kita buka lembar demi lembar catatan. Betapa buram
dalam keterasingan. Sunyi
pun menanti

(ada saatnya matahari berkabut
tak menyisakan pelangi di cakrawala)

Jkt, 1989 



QUO VADIS

bagai angin
berlari
meluruhkan daun-daun
meranggasi ranting-ranting
kutiti hidup
berputar dan merangkak
menuju kebisuan fana

hari-hari pun terlewat
tak ubahnya naik kereta senja
bayang-bayang di luar berlarian
di sela-sela senja berkabut
membentuk silhuet kabur
tak berupa

ah, ya
dunia pun seperti tak berbatas
tak bercakrawala

Bayalangu, Crb, Jan. 1991



KERINDUAN
hujan pun makin lelap
menetes di segenap jiwa
mengapungkan rinduku
pada bau tanah kelahiran
pada angin yang selalu mengembara
pada hijau daun bunga sepatu
di halaman rumah

titik hujan pun semakin akrab
mengalir lewat ubun-ubun
jauh, menetes…
tes!
     tes!
tes!

jkt, nop. 1985




Share :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. Teater Bel Bandung. All Rights Reserved. Template by Mastemplate. Web Developed by RUMAH BUDAYA ROSID